PETUNJUK TEKNIS SHALAT IDUL FITRI SAAT PANDEMIK

0
229

AMALAN-AMALAN SUNAT PADA MALAM HARI RAYA DAN MENJELANG SHALAT IED FITRI.

1. Mengisi malam hari raya bersama keluarga inti di rumah masing-masing dengan memperbanyak ibadah. Seperti shalat Isya’ dan subuh berjamaah, dzikir, shalat, baca al-Qur’an, dan lain sebagainya. Hal ini seperti yang disabdakan Nabi SAW.

من أحيا ليلة الفطر وليلة الاضحى لم يمت قلبه يوم تموت القلوب
“Barang siapa menghidupkan ( mengisi ) malam Idhul Fitri dan Idul Adha dengan ibadah yang semata karena Allah, maka hatinya tidak akan mati di saat banyak hati yang mati.”

2. Membaca takbir mulai matahari terbenam sampai imam berada di tempat shalat.
Allah ta’ala berfirman:
وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan supaya kalian menyempurnakan hitungan, yakni hitungan bulan Ramadlan, dan supaya kalian mengagungkan pada Allah atas petunjuk-Nya pada kalian.

PETUNJUK TEKNIS SHALAT IDUL FITRI DI RUMAH MASING-MASING.

1. Hukum shalat idul fitri adalah sunat muakkad dan dapat dikerjakan secara berjamaah atau tidak berjamaah. Allah ta’ala berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Maka, shalatlah karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”

2. Waktu untuk melaksanakan shalat Idul Fitri dimulai setelah matahari terbit sampai tergelincir kearah barat. Rasulullah SAW bersabda:
إن أول ما نبدأ به في يومنا هذا أن نصلي
“Sesungguhnya hari ini merupakan awal aku melakukan shalat hari raya.”

3. Persiapan shalat Idul Fitri dengan melakukan mandi, menggunakan wewangian, bersiwak, dan mengenakan pakaian yang paling baik. Perbuatan ini adalah yang dilakukan beliau Nabi SAW;

وكان عليه السلام يتطيب يوم العيد ولو من تطيب أهله وكان للنبي بردة حمراء يلبسها يوم العيد
“ Beliau Nabi SAW memakai wangi-wangian pada hari raya sekalipun dari parfum keluarganya ( istrinya ). Dan beliau mempunyai burdah yang berwarna merah yang beliau pakai pada hari raya.”

4. Makan terlebih dahulu sebelum mengerjakan shalat Idul Fitri karena ada hadits Nabi SAW:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان لا يخرج يوم الفطر حتى يطعم ، ولا يطعم يوم النحر حتى يرجع
“Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW tidak keluar pada Idul Fitri sehingga beliau makan, dan tidak makan pada Idul Adha sehingga beliau pulang.

5. Apabila dikerjakan secara sendirian atau tidak berjamaah, maka cukup dengan shalat dua raka’at tanpa ada khutbah setelahnya.
6. Apabila dikerjakan secara berjamaah bersama keluarga inti, maka tandailah mulainya shalat Idul Fitri dengan membaca:
الصلاة جامعة
Tidak disunatkan membaca adzan dan iqomah, karena Nabi Muhammad SAW bersabda:
لم يكن يؤذن يوم الفطر ، ولا يوم الأضحى
“Tidak ada adzan pada shalat Idul Fitri dan Shalat Idul Adha.”

7. Niat melaksanakan shalat Idul Fitri sambil takbirotul ihrom. Adapun bentuk niatnya adalah:
 Bila dikerjakan dengan berjamaah bersama keluarga inti:
أصلى سنة لعيد الفطر إماما / مأموما ركعتين لله تعالى
“ Saya niat shalat sunat Idul Fitri sunat sebagai imam / makmum dua rakaat karena Allah ta’ala.”
 Bila dikerjakan dengan sendirian ( tidak berjamaah ):
أصلى سنة لعيد الفطر ركعتين لله تعالى
“ Saya niat shalat sunat Idul Fitri dua rakaat karena Allah ta’ala.”

8. Setelah takbiratul ihrom, dilanjutkan dengan membaca doa iftitah yang telah kita maklumi bacaannya. Kemudian takbir tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat yang kedua sebelum membaca al-Fatihah. Antara takbir satu dengan takbir yang lain sampai pada takbir yang ketujuh pada rakaat pertama dan takbir kelima pada rakaat kedua disunatkan membaca:
سبحان الله والحمد الله ولا اله الا الله والله اكبر

9. Selesai melakukan tujuh takbir pada rakaat pertama dan lima takbir pada rakaat kedua, dilanjutkan membaca ta’awwudz, al-Fatihah, surat surat pendek se-bisanya.

10. Hukum dari takbir tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua hanyalah sunat haiah. Sehingga apabila tidak dilaksanakan baik secara sengaja atau karena lupa, maka shalatnyatidak batal dan tidak perlu diganti dengan sujud sahwi.

11. Bagi yang mengerjakan shalat Idul Fitri berjamaah bersama keluarga inti, setelah selesai shalat
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَر,ُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا, وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا, وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً, لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ, مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْد.ُ الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى جَعَلَ هَذَا الْيَوْمَ عِيْدًا ِلأُمَّةِ الإِسْلاَم, ِوَأَحَلَّ عَلَيْهِمْ فِيْهِ الطَّعَامَ, وَحَرَّمَ عَلَيْهِمْ فِيْهِ الصِّيَامُ, نَحْمَدُهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْعَلاَّمُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الأَنَامِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنًا مُحَمَّدٍ الْهَادِى إِلَى دَارِ السَّلاَمِ. وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ؛ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ, إِتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
اللهُ أَكْبَرُ × 3
Kaum Muslimin yang berbahagia…
Ada dua hal yang sangat diharapkan dalam setiap perayaan hari raya idul fitri, yaitu
1. Perbaikan serta peningkatan hubungan kita dengan Allah SWT atau hablum-minalloh, yakni dengan cara meningkatkan amal-amal ibadah yang lebih baik mendalam dari pada tahun-tahun sebelumnya, menuju tercapainya taqwa dan Haqqo Tuqotih.
2. Pemulihan dan perbaikan hubungan kita dengan sesama manusia atau Hablum-Minannas. Dengan cara saling memaafkan atas segala kesalahan dan kekhilafan, saling menahan diri dari ucapan-ucapan atau perbuatan-perbuatan yang akan merugikan dan menimbulkan permusuhan satu sama lain.
Oleh karena itu, setelah hari ini, marilah kita buka lembaran baru yang lebih baik dan lebih bersih, bagi pergaulan di antara sesama kita, jangan dikotori oleh persoalan-persoalan sepele, yang justru akan menguntungkan orang-orang di luar kita.
اللهُ أَكْبَرُ × 3
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ
Kita telah melaksanakan jihad melawan hawa nafsu sebulan penuh dengan berpuasa, yang kemudian ditutup dengan perayaan Idul Fitri dari tahun ke tahun silih berganti, adalah ibarat bertenun. Harapan kita adalah menenun budi pekerti dan akhlak mulia, menjadi pakaian pribadi kita.
Mudah-mudahan dengan bertambahnya umur kita, makin matang cara kita berfikir, makin dalam iman kita, makin meningkat amal ibadah kita, makin luhur dan mulia akhlaq kita, makin kuat dan kokoh persatuan kita. Janganlah kita termasuk pada apa yang telah diperingatkan Allah dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl 92
وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَى مِنْ أُمَّةٍ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Janganlah kalian seperti perempuan tua yang melepaskan kembali benang tenunnya, selembar demi selembar hingga menjadi lepas, setelah terpintal kuat.
Dalam ayat tadi dimaksudkan bahwa susunan atau ikatan yang sudah teguh dan kuat, dan usaha perbaikan hubungan yang sudah terjalin baik dan erat, janganlah diruntuhkan lagi dengan hal-hal yang akan merusak ikatan atau hubungan itu sendiri, baik ikatan hubungan dengan Allah SWT حَبْلٌ مِنَ اللهِ atau ikatan hubungan dengan sesama manusia
اللهُ أَكْبَرُ × 3
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ
Akhirnya sekali lagi, marilah momentum Idul Fitri ini, kita jadikan wahana untuk mempererat persaudaraan kita, dengan jalan menghidupkan kembali semangat silaturrahmi, saling maaf memaafkan atas segala kekhlilafan dan kesalahan dengan ikhlas, penuh kesucian lahir dan batin. Sebagai pengakuan obyektif dari diri kita masing-masing, bahwa kita adalah manusia, dan manusia tidk perbah luput dari kesalahan dan kekhilafan. Kita hidupkan terus tradisi Musofahah atau bersalaman, berjabatan tangan sesuai tuntunan agama.
Rosululloh bersabda :
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا
Tidaklah dua orang muslim yang saling bertemu, kemudian keduanya bersalaman, melainkan keduanya akan mendapat ampunan Allah, sebelum keduanya berpisah.
Demikianlah, mudah-mudahan rahmat Allah senantiasa menaungi hidup kita, taufiq dan hidayahNya selalu membimbing kita, hingga kita selamat dan berbahagia Fid-Dunya Wal-Akhiroh. Amin.
أًعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تَخُوْنُوا اللهَ وَالرَّسُوْلَ وَلاَ تَخُوْنُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِى وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

SEMOGA BERMANFAAT

[Team Aswaja Center Jawa Barat}

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here