Dalil dan Dialog Memperingati Maulid Nabi Saw

0
78
Gus Muwafiq sedang menyampaikan ceramah maulid Nabi Saw di Mapolda Jabar

Bandung – Menanggapi pesan berantai yang dishare ke medsos tentang persoalan peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam oleh kalangan anti maulid, maka kami Aswaja Center Kuningan merasa perlu meluruskan tuduhan-tuduhan tak berdasar dan cenderung memojokkan terhadap mereka yang pro maulid-an.

Sebelum kami menguraikan, ada satu hal yang harus kami garisbawahi bahwa masalah peringatan maulid adalah masalah khilafiah / furu’iyyahdimana setiap orang boleh melakukannya atau meninggalkannya. Para pihak seharusnya saling menghormati.

Anti Maulid:
Perayaan Maulid Nabi tidak dikenal oleh generasi salafus shalih. Serta tidak dilakukan oleh Khulafa Ar Rasyidin, juga tidak dilakukan oleh para sahabat Nabi atau pun juga oleh para tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik. Juga tidak dilakukan oleh para imam kaum Muslimin yang hidup setelah mereka.
Bantahan Pecinta Maulid:
Kasus yang sama terjadi pada persoalan kodifikasi al-Qur’an. Dalam sebuah dialog serius Sayidina Abu Bakar berkata kepada Sayidina Umar yang mengusulkan untuk mengumpulkan al Quran:

كَيْفَ أَفْعَلُ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟» فَقَالَ عُمَرُ: هُوَ وَاللَّهِ خَيْرٌ.

Artinya:
Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah SAW? Sayidina Umar ra menjawab: هُوَ وَاللَّهِ خَيْرٌ.. Ini (mengumpulkan al Quran) demi Allah adalah kebaikan. (Shahih Bukhari, Bab Laqod Jaakum Rasulun min Anfusikum).

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa segala kebaikan boleh dilakukan walaupun tidak dilakukan Rasulullah SAW. Apalagi jika yang tidak melakukannya adalah sahabat dan tabiin. Nabi sendiri merayakan maulid

Anti Maulid:
Jika Maulid Baik, Mengapa Sahabat Tidak Merayakan
Dari sini kita bertanya-tanya: apakah kita yang hidup sekarang ini lebih hebat dalam mengagungkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam daripada mereka?
Bantahan Pecinta Maulid:
1. Telah disebutkan dalam hadits shahih

عن عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ :مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَبَّحَ سُبْحَةَ الضُّحَى وَإِنِّي لأُسَبِّحُهَا

Dari Aisyah ra beliau mengatakan: “Aku tidak pernah melihat Nabi SAW shalat Dhuha, namun aku melakukannya.” (HR Bukhari).

Seandainya itu kebaikan pasti Nabi SAW telah melakukannya. Kenapa tidak dikatakan kepada Sayidah Aisyah ra, “Kenapa kau melakukan ini sedangkan engkau berkata bahwa Nabi SAW tidak melakukannya”.

2. Imam Syafii pernah bercerita: aku melihat di pintu Imam Malik seekor kuda dari kuda-kuda Khurasan dan Bighal Mesir. Lalu aku katakan, “alangkah bagusnya!” Imam Malik berkata, “itu adalah hadiah dariku untukmu.”

Imam Syafii menimpali, “sisakanlah untuk dirimu seekor untuk kau kendarai.”

Imam Malik berkata, “aku malu kepada Allah untuk menjejak tanah Nabi-Nya (madinah) dengan telapak kaki kendaraan.” (Tartibul Madarik juz 2/53).

Imam Malik enggan menginjak tanah kota Madinah dengan kaki hewan tunggangannya, beliau memilih berjalan kaki saja.

Perhatikan, Imam Syafii ra tidak mengatakan kepada Imam Malik, “Apakah cintamu kepada Nabi SAW lebih besar daripada cinta para sahabat Nabi SAW yang berjalan di atas kendaraan mereka di kota Madinah? Apakah mereka tidak terpikir untuk melakukannya lalu hanya engkau bisa berpikir demikian?”

3. Ibnul Qoyim berkata:

سمعت ابن تيمية رحمه الله يقول : من واظب على يا حي يا قيوم لا إله إلا أنت كل يوم بين سنة الفجر وصلاة الفجر أربعين مرة أحيى الله بها قلبه

Aku mendengar Ibnu Taimiyah ra berkata, Siapa yang membiasakan membaca ‘Ya Hayyu Ya Qoyyum La ilaha Illa Anta’ setiap hari di antara shalat sunnah Fajr dan shalat Fajr sebanyak 40 kali, maka Allah akan menghidupkan hatinya. (Madarikus Salikin juz 3/264).

Inilah Ibnu Taimiyah, ia juga ternyata melakukan sesuatu yang tidak pernah kita dengar diriwayatkan dari Nabi SAW, tidak pula dari para sahabatnya. Lalu kenapa kami tidak mendengar wahabi mengingkarinya? Tidak pernah mereka berkata, “seandainya ini baik, pastinya Nabi SAW dan para sahabatnya akan melakukannya”.

”Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutin, itu dikerjakan oleh sebagian manusia, dan mereka mendapat pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya terhadap Rasulullah SAW”. (Ibnu Taimiyah – Iqtidha’: 297)

Kelompok anti maulid:
haramkan maulid Nabi Muhammad karena, salah satunya, menyebut tradisi maulid sebagai amalan bidah yang sesat. Maulid Nabi serupa dengan yang diadakan oleh orang nasrani yang merayakan hari kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam sehingga dikategorikan sebagai tasyabuh.”

Bantahan Pecinta Maulid:
Orang Nasrani dalam Natal tidak merayakan kelahiran Nabi melainkan merayakan kelahiran Tuhan. Sedangkan Maulid Nabi Muhammad untuk merayakan kelahiran Nabi. Apa kalian anggap merayakan kelahiran nabi dan kelahiran tuhan adalah dua hal yang sama?
Larangan menyerupai orang kafir adalah menyerupai sesuatu yang menjadi ciri husus orang kafir. Jika sesuatu itu telah umum dilaksakan oleh umat Islam, maka tidak bisa disebut sebagai tasyabbuh bilkuffar (menyerupai dengan orang-orang kafir).

Anti maulid
Rasulullah SAW tidak dilahirkan pada 12 Rabiul awwal
Bantahan anti maulid:
Pernyataan ini tidak aneh karena sebetulnya ulama dari dulu ulama tidak sepakat kapan dipastikan. Terjadi perbedaan pendapat tentang kapan Rasulullah SAW lahir. Namun demikian, pendapat yang diketahui secara luas bahwa Rasulullah lahir di hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awwal, tahun Gajah—Imam al-Kinani menshahihkan pendapat ini.(Imam Izuddin bin Badruddin al-Kinani, al-Mukhtashar al-Kabir fi Sirah al-Rasul, Amman: Darul Basyir, 1993, hlm 22). Hal ini didasarkan pada riwayat Imam Ibnu Ishaq dari Sayyidina Ibnu Abbas: وُلِدَ رَسُولُ اللَّهِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ، لِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ شَهْرِ رَبِيع الْأَوَّلِ، عَام الْفِيلِ “Rasulullah dilahirkan di hari Senin, tanggal dua belas di malam yang tenang pada bulan Rabiul Awwal, Tahun Gajah.” (Imam Ibnu Hisyam, juz 1, hlm 183). Riwayat di atas diperkuat dengan perkataan Qays bin Makhramah ra yang didapat dari kakeknya: وُلِدْتُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ عَامَ الْفِيلِ “Aku dan Rasulullah dilahirkan pada Tahun Gajah.” (HR. Imam Tirmidzi) Dalam riwayat lain, ada juga yang menyebutkan bahwa Rasulullah dilahirkan di bulan Ramadhan. Riwayat ini dikemukakan oleh ‘Uqbah bin Mukarram yang mengatakan: …..وُلِدَ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ لِثَنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ.. “…..Rasulullah SAW dilahirkan pada hari Senin tanggal dua belas di malam hari yang tenang, bulan Ramadhan…..”(Imam Muhammad bin Ahmad al-Dzahabi, al-Sirah al-Nabawiyyah,Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, tt,hlm 6). Menurut Imam al-Dzahabi, riwayat di atas merupakan hadîts sâqith (hadits yang gugur) dan tidak bisa dijadikan sandaran. Di sisi lain, terdapat riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW tidak dilahirkan di tahun Gajah, tepatnya beliau dilahirkan sebelum tahun Gajah. Riwayat ini dikeluarkan oleh Abu Shalih dari Sayyidina Ibnu Abbas yang mengatakan: وُلِدَ رَسُوْلُ اللهِ صلي الله عليه وسلم قَبْلَ الْفِيْلِ بِخَمْسِ عَشْرَةَ سَنَّةً “Rasulullah SAW dilahirkan sebelum tahun Gajah, sekitar lima belas tahun sebelumnya.” (Imam Muhammad bin Ahmad al-Dzahabi, hlm 6). Imam al-Dzahabi mengomentari riwayat ini dengan sangat keras. Dia mengatakan: “qad taqaddama ma yubayyinu kadzba hadza al-qaul ‘an ibn ‘abbas bi isnad shahih—sungguh telah dikemukakan sebelumnya, riwayat yang menjelaskan kebohongan perkataan ini, yaitu riwayatIbnu Abbas dengan sanad yang shahih.” (Imam Muhammad bin Ahmad al-Dzahabi, hlm 6). Maksudnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Ibnu Ishaq dari Sayyidina Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW lahir pada tanggal 12 Rabiul Awwal di tahun Gajah. Riwayat itu menjadi bukti lemahnya riwayat yang menyatakan Rasululla.

Anti maulid:
“Apakah anda membuat suatu hari raya agama berdasarkan kepada tradisi, ataukah berdasarkan syariat?”. Tentu jawab yang benar: berdasarkan syariat.
Bantahan:
Kami menyebutnya peringatan. Bukan perayaan. Karena bentuknya peringatan, ya bisa dilakukan kapan saja. Bahkan diluar Rabiul Awal pun sah-sah saja. Kalau perayaan, ya harus di hari H-nya. Kalaupun ada yang menyebutkan merayakan maulid Nabi, itu bukan maksudnya menjadikan hari maulid sebagai hari raya dan menyikapinya sebagaimana hari raya Jum’at, Idul Fitri atau Idul Adha. Ketiga hari raya itu memiliki rukun yang tidak bisa dibolak balik, ditambah ataupun dikurangi. Sementara Maulid, ya terserah pada penyelenggaranya. Ada yang melengkapinya dengan barazanji, ada pula yang tidak. Ada yang menyertainya dengan lomba-lomba ada pula sekedar mendengar ceramah, shalawatan dan makan bersama sudah cukup. Ada yang melakukannya dipagi hari. Ada sore hari, ada pula yang malam hari setelah shalat Isya. Kalau idul Fitri ya sudah ditentukan kapan dan batasannya. ( Aswaja Center Kuningan ).